Dear Kamu, Aku Berpikir Cara Terbaik Meminta Maaf Adalah Membuatmu Terganggu Pada Maafku
Pernah melakukan kesalahan?
Pernah merasa orang lain melakukan kesalahan padamu?
Ujung-ujungnya kedua hal itu harus diakhiri dengan kata maaf, supaya kesalahan tersebut bisa terampuni.
Aku pernah berada dalam kedua situasi tersebut. Situasi di mana aku yang melakukan kesalahan, dan situasi orang lain melakukan kesalahan padaku.
Di situasi pertama, di sinilah aku yang harus minta maaf. Di situasi kedua, sebaliknya.
Jadi aku bisa merasakan kehidupan secara keseluruhan. Tidak hanya merasakan dari satu sisi saja.
Dan ternyata!!!!!
Entah ini dapat disebut benar atau tidak, aku pikir supaya permintaan maaf kita diterima, kita hanya cukup membuat dia risih.
Maksudnya, selalu ganggu dia. Ucapkan maaf tiap hari. Ucapkan maaf sebanyak mungkin. Buat dia risih!!!
Buat dia terganggu.
Kupikir begitu. Karena begini ....
Aku pernah melakukan kesalahan pada orang. Di situ aku akan meminta maaf. Tapi aku ingin bertindak dengan anggun. Prinsipku adalah meminta maaf tanpa buat dia terganggu.
Jadi aku hanya meminta maaf satu kali seumur hidupku pada dia!
Yaaaa, meminta maaf satu kali sudah cukup bukan? Tidak membuat dia terganggu, tidak juga membuat kita tampak jahat. Sebab masih ada kata 'maaf' yang keluar dari mulut kita.
Hasilnya? Dia tidak pernah merespon. Tidak pernah kembali baik padaku.
Menyedihkan.
Lalu ... aku tak mau terlalu memohon. Dia memaafkanku atau tidak, itu urusan dia. Yang penting kupernah meminta maaf.
Tapi suatu hari, seseorang gantian yang berbuat kesalahan padaku.
Jadi sekarang aku merasakan ada di pihak 'menerima permintaan maaf'.
Cara 'seseorang' itu meminta maaf, sama seperti aku. Cuma meminta maaf satu kali seumur hidup.
Hasilnya? Sama sekali tak kurespon. Tapi dari hatiku yang terdalam, aku sudah memaafkan dia. Aku jadi berpikir, mungkin 'dia' juga melakukan itu padaku. Meski tidak pernah merespon, tapi mungkin dia sudah memaafkanku.
Kembali ke 'seseorang' itu. Caranya sama denganku meminta maaf pada 'dia' (yang bukan seseorang itu). Mungkin maksudnya tidak ingin membuat aku terganggu.
Tapi salah! Aku malah ingin sekali diganggu. Aku ingin dibuat dia risih!
Aku teringat sebuah pesannya. Hanya sebuah!
Sama seperti saat aku mengiriminya pesan. Hanya sebuah.
Di situ aku berpikir, "Kenapa tidak banyak sih? Kenapa cuma sebuah. Ini buat aku canggung untuk merespon maaf-nya."
Yaa, mungkin alasannya canggung. Sebuah pesan ... itu sangat terasa canggung.
Berbeda jika dia mengirim banyak sekali pesan yang membuatku menjadi sangat terganggu sampai risih, mungkin aku akan membalas pesannya. Mengomelinya. Lalu kita kembali baikkan.
Seperti itu?
Apakah benar kunci agar permintaan maaf kita diterima dengan membuat dia terganggu?
Aku ingin.
Ingin membuktikannya.
Apakah bisa terbukti?
Tapi aku takut.
Aku ingin sekali mencobanya. Membuktikan, apakah yang dia inginkan adalah aku harus mengganggunya dulu supaya dia menerima maafku. Membuat dia merespon. Bukannya terus terdiam dan menganggapku seolah tak pernah ada di dunia.
Begitu kah?
Tapi aku tak mau.
Membuatmu terganggu adalah kebiasaan yang sedang aku hindari sekarang.



